
Banyak sebenarnya yang ingin ditulis, tapi tapi tapi, ah sudahlah. Hahaha.
Welcome 2012! Banyak yang nulis tentang their wishes. Di twitter, di facebook, dan broadcast message *ini sudah keterlaluan*. Saya juga punya banyak harapan di tahun ini. Harapan yang saya harapkan terjadi di 2012 ini. Tapi, ternyata perlahan-lahan, musnah. Hahaha. Iya, saya tertawa. Karena, untuk apa menangisi hal-hal seperti ini? Sebelum orang lain yang menertawai kita, maka tertawailah dirimu sendiri. Hahaha. *Sambil ngemil sandal*
Jadi gini, tadi saya sempat memilih buku yang ingin saya baca lagi. Saya memang seperti ini, buku yang saya baca secara tiba-tiba pasti karena mood yang lagi naik turun, sebut saja galau. ih gak! Mungkin karena tadi juga sempat mampir ke www.istribawel.com milik Ninit Yunita, akhirnya saya memutuskan untuk membaca ulang Test Pack tulisan Ninit Yunita.
Novel ini tentang komitmen. Tentang arti mencintai, terlebih arti menerima apa adanya. Tata dan suaminya yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Kakang. 7 tahun menikah, tapi mereka belum memiliki anak. Berbagai macam cara sudah dilakukan, mulai dari intens melakukan penyerbukan (ini istilah Tata yang bikin saya ngakak) yang intensif, mencoba segala cara berdasarkan Kamasutra milik Tata, bercinta berdasarkan shio, mengonsumsi toge, dan mulai mencoba memperbaiki pola hidup, seperti kebiasaan merokok dan minum kopi si Kakang. Minum kopi si Kakang mulai diganti dengan mint tea, dan untuk rokok, mungkin karena bukan hal mudah untuk berhenti merokok, maka diberlakukan aturan abu rokok tidak boleh ada di dalam rumah.
Tata adalah seorang pengacara, menikah dengan seorang Rahmat a.k.a Kakang yang seorang psikolog dan juga dosen. Kakang sangat mencintai Tata, bagi Kakang, getting married was not his decision, but getting married with Tata was his best decision. Begitupun dengan Tata, sangat mencintai mantan pacarnya yang penggemar berat Superman dan Hamdan ATT itu. Sampai pada suatu saat, dalam 7 tahun pernikahan mereka, Tata menyadari sesuatu, having children is the most precious thing in the world. Having children is priceless.
Btw, ini bukan sebuah book-review loh ya. Saya Cuma tertarik dengan pembahasan “komitmen” yang diangkat oleh Ninit Yunita ini. Lanjut.
Dengan berbagai macam cara untuk memiliki anak, dan hasilnya Tata tetap mendapatkan tamu bulanan di setiap bulannya, maka Tata mulai berpikir untuk tes kesuburan. Karena Tata sangat antusias dengan misi memiliki anak ini, maka Tata yang pertama kali melakukan tes kesuburan. Hasilnya : normal. Tata bisa hamil. Masalah tidak ada pada Tata.
Giliran Kakang yang harus melakukan tes kesuburan. Tes pertama, hasilnya : Infertil. Yup, Kakang tidak bisa memproduksi a hero sperm yang diharapkan oleh Tata. Karena untuk lebih meyakinkan, maka dilakukan tes 3 hari ke depan dengan syarat Kakang harus banyak istrahat supaya sperma yang dihasilkan optimal *angguk2*. Namun hasilnya tetap sama, Kakang infertil. Kakang memutuskan untuk tidak memberitahu Tata. Apalagi dengan usaha Tata selama ini yang ingin sekali memiliki anak, maka Kakang mengurungkan niatnya.
HIngga satu hari, Tata melihat hasil tes itu ada di saku baju Kakang. Betapa kagetnya Tata karena Kakang merahasiakan dan berbohong tentang tes kesuburan yang ternyata telah dia lakukan. Dan yang lebih mengagetkan lagi, Kakang positif infertil.
Everything is silence without children’s laugh. Mulailah pertengkaran antara Tata dan Kakang. Tata mulai merasa dengan aksi merahasiakan hasil tes, itu berarti Kakang memang tidak ingin punya anak, tidak mengerti usaha Tata untuk memiliki anak setelah 7 tahun pernikahan mereka.
“saya stres!”
“Saya juga stres! Tapi saya ingin terlihat tegar agar KAMU bisa berpegang pada saya. That’s what husbands do, Neng!”
“Kamu harusnya tabah dong, Neng, kalo kita emang nggak bisa punya anak.”
“You know what? Bukan KITA yang nggak bisa punya anak…tapi KAMU!”
Tata pulang ke rumah orang tuanya.
Saya sangat menyukai part ini. Ketika Kakang mulai merindukan Tata. Ketika dia mulai kembali mendengar lagu kenangan mereka berdua Moon River – Frank Sinatra. Kakang mencari sesuatu yang bisa mengobati rasa rindunya ke Tata. Di lemari dia mendapatkan kaus putih yang biasa dipakai oleh Tata. Sarung bantal diganti dengan kaus putih. Kakang said : “I can still smell her.”
In the end, Tata kembali ke rumah. Dan mereka mulai memperbaiki hubungan mereka, penyerbukan tetep dijalankan :-D dan yang paling seru adalah mereka mengadopsi anak.
Menurut Tata, ini adalah komitmen mereka.
"Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.
Will you still love them, then?
That?s why you need commitment.
Don?t love someone because of what/how/who they are.
From now on, start loving someone, because you want to."
Jleb. Novel ini mungkin hanya contoh kecil dari berbagai masalah dalam rumah tangga. Ketika seseorang tidak seperti yang kamu harapkan, masihkah kamu mencintainya? *uhuk*. Bener kata Ninit Yunita, start loving someone because you want to.
Baiklah. Yang mau dicintai manah,kaka? Rrrrr. Oiya, yang membuat saya selalu suka novel ini karena covernya cantik sekali. Warna ungu :)
#NowPlaying Dari Hati - Club Eighties
cheers,
inar