Welcome


Kamis, 01 Desember 2011

Untitled


Saat ini, seharusnya saya menyelesaikan bab terakhir untuk tesis saya, tapi entah kenapa kegalauan itu muncul lagi. Galau bisa berarti malas. Hahaha.

Ok,
terkadang dalam hidup ini kita sering dihadapkan pada kondisi dimana kewajiban sulit untuk dituntaskan, tapi hak justru ingin segera dimiliki. Teringat kata-kata Bapak saya " Jangan jadi manusia yang menuntut banyak hak, tapi lupa akan pentingnya kewajiban." Jleb moment. Langsung inget tesis lagehh, dearest reader!

Diumur 25 tahun ini, saya sering bertanya-tanya kewajiban apa yang sudah saya tuntaskan? Sehingga begitu banyak hak-hak yang ingin segera saya miliki. Tanpa saya tahu, berhak kah saya menerima "hak" itu? Ribet yak? Iya. Sebagai contoh, dalam perbincangan bersama teman-teman kampus, yeah just call it : Rumpi, sering kami nyeletuk : "Pokoknya suamiku nanti mesti kayak ini, dia harus gini, harus mengerti ini, harus ada pas aku lagi begini" dengan beberapa "ini" lainnya. Tapi sudahkah kita memperbaiki diri, entah itu dengan memperbanyak ibadah dan menghilangkan sifat egois dalam diri kita? Belum yak? Sama.

Tulisan menarik dalam buku Atas Nama Jiwa, dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ tentang peran krusial pendukung Timnas terkait dengan gawang tim nasional sepak bola Indonesia yang bobol bertubi-tubi pada final leg 1 di Bukit Jalil, Malaysia , 26 Desember 2010. Saya bukan penikmat bola, tapi tulisan NoRiYu cukup membuat paham bagaimana keterlibatan pendukung Timnas dalam menuntut "hak kemenangan" mereka terhadap abang-abang pemain bola *halah*, seperti ini :
"Sebagai pemain ke-12 dari kesebelasan pendukung timnas ikut mengalami reaksi kekecewaan. Ada dua kemungkinan kenapa para pendukung timnas di Bukit Jalil turut frustasi atau merasa down sehingga memutuskan untuk pergi tanpa mendukung pertandingan kelar, yaitu, pertama, rasa empati dan melebur terhadap kondisi kekalahan timnas sehingga tidak sanggup melihat pertandingan atau, kedua, tidak siap (denial) untuk kembali tidak menang yang disalahartikan bahwa tidak menang identik dengan kalah dan pecundang ; bukan kemenanfan yang tertunda atau butuh perbaikan kedepannya.
Ketiga, lupa bahwa timnas sudah masuk final AFF 2010 dan menjadi stimulan dari hadirnya kembali kebanggan nasional. Jika terpelihara, lambat laun hasil stimulasi ini akan menjadi internalisasi nilai dalam setiap jiwa rakyat Indonesia dan mengkristal menjadi jiwa patriot sehingga tidak semata-mata ikut menyanyikan lagu Garuda di Dakaku tetapi tumbuh keinginan kuat untuk berprestasi bagi Indonesia seperti para pahlawan mereka dalam timnas."

Sungguh, alasan ketiga yang diungkapkan oleh NoRiYu sebenarnya tidak hanya bisa di"andai"kan dengan timnas dan pendukungnya, tapi juga bisa dalam kondisi kita memahami hak dan kewajiban. Kita yang menonton pertandingan bola, pasti menginginkan kemenangan, pokoknya harus menang. Tapi, apa bentuk dukungan kita? Dengan menyanyikan Garuda di Dadaku? Dengan meneriakkan In-Do-Ne-Sia? Saya pun bingung.

Hak dan kewajiban. Pelajaran yang kita dapat sejak duduk di sekolah dasar - sekolah menengah. Semakin nyatalah kondisi ini ketika kita masuk ke perguruan tinggi, berkecimpung di dunia kerja, hingga pada saatnya kita memiliki sebuah tanggung jawab yang bernama Keluarga.

Dan saat ini,
saya masih nge-list kewajiban apa lagi yang belum saya tunaikan. Dan mengapa begitu banyak hak yang ingin saya miliki secepatnya *jedotin kepala ke dinding*. Seperti halnya tesis ini, saya ingin cepat-cepat jadi Master, saya ingin cepat-cepat selesai sidang, saya ingin cepat-cepat meninggalkan kampus perjuangan ini. Tapi, saya sadar masih ada beberapa kewajiban yang sangat krusial yang harus saya tunaikan terlebih dahulu. Yaitu, saya harus kembali tujuan awal saya berada di kampus ini. Yaitu untuk belajar, menggali ilmu sebanyak mungkin, sehingga panen ilmu kelak bisa saya nikmati sampai umur berhenti. Saya harus kembali meluruskan niat.

Eh sumpah, tulisan ini bukan tentang tesis thok! Bener-bener random hati ini. Hahaha.

Hak dan kewajiban.
Seperti kita menuntut ingin punya suami yang tidak apa-apa cakep yang penting kaya. Tapi sudahkah kita memperbaiki diri untuk kelak akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik?
Dan untukmu para lelaki yang ingin mencari istri yang solehah dan taat kepadamu, sudahkah kalian memperbaiki iman dan akhlak kalian? Karena sesungguhnya, kami wanita sangat mengharapkan sosok imam yang bisa kami andalkan.

Itulah hak dan kewajiban yang berputar-putar dalam hati dan sinkronisasi dengan otak saya malam ini :hammer:.


Cheers,


Inar